Tapanrejo dalam bahasa jawa tempat pertapaan yang ramai nama tersebut diberikan oleh ki Juru Martani sebagai Ungkapan Terimakasihnya pada seorang pertapa yang telah menolongnya dan pasukannya. Cerita ini merupakan cerita turun temurun yang kemudian dijadikan dasar atas dinamakannya sebuah desa di Kecamatan Muncar yaitu Desa Tampangrejo yang kemudian dari tahun ke tahun dirubah menjadi Desa Tapanrejo masih dalam kecamatan Srono yang akhirnya sekarang menjadi kecamatan Muncar.

Pada zaman dahulu, tepatnya pada abad 17-18 ada sepasang pengantin dari negeri Madura. Sepasang pengantin ini mendapatkan amanat dari orang tuanya untuk mencari tanah baru ke wilayah timur. Pengantin laki-laki tersebut merupakan salah seorang putra nelayan yang dikenal oleh masyarakat Desa Tapanrejo bernama H. Bendu. Dalam perjalanannya, dia tidak lupa membawa istrinya yang namanya sampai saat ini masih menjadi misteri. Saat itu, diwilayah Banyuwangi atau dulu dikenal dengan nama belambangan masih dilingkupi hutan belantara. “Dalam perjalanannya dari tanah Madura, H. Bendu beserta istri akhirnya terdampar di sebuah pantai  tepatnya di daerah Hamuncar yang sekarang dikenal dengan kecamatan Muncar. Kemudian rombongan ini terus ke arah selatan masuk hutan.

Saat turun dari perahu, matahari sudah condong ke arah barat, sehingga perjalanan tersebut dihentikan dan merekapun bermalam di tengah hutan. Saat itu, istrinya tertidur pulas. Namun tidak demikian dengan H. Bendu, dia selalu ingat pesan orang tuanya. Malam terus larut, namun H. Bendu  terus merenung dimana sebenarnya tempat yang diinginkan oleh orang tuanya itu.

Ternyata malam sunyi itu membuat dia semakin tidak bisa tidur walaupun sebenarnya dia merasa kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. Dalam kebingungannya, samara-samar telinganya mendengar suara kucuran air yang sangat besar. Akhirnya diam-diam diapun meninggalkan istri untuk mencari asal suara air itu. Dalam pencarian tersebut, H. bendu melihat seberkas sinar yang sangat terang. Karena penasaran, dia akhirnya menuju tempat asal sinar tersebut. Ternyata, sinar yang sangat terang tersebut berasal dari sebuah air yang keluar dari sebuah sumber air.

“Setelah menemukan sumber tersebut, akhirnya dia kembali ke istri yang masih tertidur pulas. Namun dalam hatinya dia selalu bertanya-tanya mengapa sumber itu mengeluarkan sinar walaupun hanya sekejap. Pertanyaan tersebut selalu muncul di benak H. Bendu waktu itu”.

Karena selalu dihantui pertanyaan tersebut, akhirnya dia memohon petunjuk Gusti Allah SWT. Sebelum pagi hari, petunjuk Allahpun datang dan itu merupakan jawaban dari apa yang dipikirkannya. Tempat itu adalah tempat yang diamanatkan oleh orang tuanya dan sumber yang ditemukan tersebut dinamakan Kedung panasan yang sampai saat ini bagi sebagian masyarakat disekitarnya terdapat “Buaya Ghaib” yang konon merupakan jelmaan penemunya.

“Pagi harinya, H. Bendu bersama istri melihat kenyataan keberadaan sumber tersebut. Air yang keluar dari sumber tersebut ternyata merupakan sebuah “Kedung” atau danau kecil yang menyatu dengan sungai, dan saat itu sumber tersebut ramai dikerumuni oleh binatang hutan dan terdapat banyak sekali ikan yang menjadikan sumber tersebut menjadi sanggat ramai. Dengan tidak sengaja H. Bendu dan istrinya berteriak Tapanrejo, Tapanrejo, Tapanrejo,” yang berarti Kedung atau danau yang Ramai.

Saat itu, H. Bendu meyakini bahwa disitulah dirinya harus tinggal bersama istri. Akhirnya H. Bendu membabat alas tersebut dan membuka lahan untuk bertani selain bekerja sebagai Nelayan.

“Tidak lama kemudian banyak orang-orang pendatang baru yang datang ke daerah tersebut. Kemudian daerah tersebut akhirnya terkenal dengan sebutan ‘TAPANREJO”.
Waktu itu H. Bendu ditunjuk oleh masyarakatnya untuk memimpin sebagai Kepala Desa pertama di wilayah tersebut.

Pembagian wilayah

Desa ini terdiri dari 2 dusun, yaitu:

  • Dusun Kedung Dandang (6 RW)
  • Dusun Krajan (9 RW)

Kehidupan sosial

Masyarakat Desa Tapanrejo masih memegang teguh adat jawa. Orang di desa ini masih terlihat sangat ramah bagi pendatang. Masyarakat Tapanrejo biasanya menggelar upacara syukuran atas hasil panen yang melimpah setiap tahunya. Di desa Tapanrejo 1/3 Penduduknya banyak yang merantau ke daerah-daerah di Indonesia, dan akan kembali ke sini mengunjungi keluarganya setiap lebaran.

Pendidikan

Lembaga pendidikan formal yang ada di Desa Tapanrejo adalah:

  • SDN 1 Tapanrejo
  • SDN 2 Tapanrejo
  • SDN 3 Tapanrejo
  • SDN 4 Tapanrejo
  • SDN 5 Tapanrejo
  • MI Kedung Dandang
  • SMA Negeri 1 Muncar

Penduduk

Penduduk desa Tapanrejo biasanya menggantungkan kehidupanya dari hasil pertanian, dan ada sebagian bekerja sebagai buruh pabrik.

Hasil Alam

Komoditas utama yang dihasilkan Desa Tapanrejo biasanya berupa hasil pertanian seperti padi, cabai, jeruk, ketela, dan kacang tanah

Pemerintahan

Desa Tapanrejo saat ini di pimpin oleh Drs. SULAIMAN.

Perbatasan

  • Barat: Desa Sraten
  • Utara: Desa Kebaman dan Desa Blambangan
  • Selatan: Desa Tambakrejo
  • Timur: Desa Kedungringin dan Desa Kedungrejo